Langsung ke konten utama

Postingan

Romantisme Yang Membara di Hutan

Di pinggir peradaban, di tempat di mana jalan aspal berhenti dan pohon-pohon mengambil kembali tanahnya, seorang lelaki membangun kabin kecil dari kayu dan kesunyian. Seorang matematikawan yang meninggalkan papan tulis universitas untuk belajar lagi pada lumut, tanah, dan angin. Ia memandang dunia dari jarak jauh dari balik kabut hutan Montana yang lebih jujur daripada kota.   Di sana ia membaca peradaban seperti penyakit yang perlahan tumbuh. Kota-kota menjulang seperti monumen bagi mesin. Manusia berjalan cepat tetapi tidak lagi tahu ke mana.   Di pabrik dan laboratorium suara logam lebih keras daripada suara sungai. Dan ia berkata pada dirinya sendiri: “Ini bukan kemajuan… Ini adalah penjara yang dibangun manusia untuk dirinya sendiri.”   Ia membaca buku-buku yang berbicara tentang nasib teknologi ia menemukan gagasan bahwa teknologi telah menjadi sistem sebuah jaringan raksasa yang tak lagi tunduk pada kehendak manusia.   Mesi...
Postingan terbaru

Naik Gunung & Potret Masyarakat Algoritma

Potret bisu digital kontemporer masyarakat urban hari ini, arus informasi bergerak semakin deras dan bahkan melampaui kesiapan kita untuk memaknainya. Kita tidak lagi dapat membaca setiap unggahan sebagai sesuatu yang bekerja secara netral. Algoritma platform meramu suatu format  For You Page  (FYP) yang berfungsi menjadi suatu mesin seleksi yang mengutamakan konten berdaya tarik tinggi visual spektakuler, narasi pemulihan diri, dan pengalaman yang dapat direplikasi dengan tumbuhan narasi reflektif.  Dalam skala ini, individu tidak lagi memandang alam sebagai wilayah hidup, melainkan sebagai objek sirkulasi simbolik sebagai tanda dan nilai yang mereka siapkan untuk diterjemahkan menjadi atensi. Algoritma tidak menciptakan pasar, tetapi ia mempercepat dan menstabilkan logika pasar yang telah ada, konsumsi dengan hegemoni setiap hari. FYP bekerja sebagai penyaring pra-ekonomi. Ia menguji konten bukan berdasarkan nilai ekologisnya, melainkan berdasarkan potensi...

Larasati : Catatan Psikososial dari Pengungsian Banjir Aceh Utara

          Aceh Utara --- Banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya pada akhir Desember 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah jeda panjang yang memisahkan ribuan orang dari rumah, rutinitas, dan rasa aman mereka. Tagar #PrayForSumatera memang sempat bergema di media sosial, namun di lapangan, terutama di Desa Rumoh Rayuek, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dampak bencana masih terasa nyata---terutama bagi anak-anak. Sekitar 200 anak tercatat terdampak langsung. Mereka kehilangan rumah, ruang bermain, dan kepastian akan hari esok. Area pasar desa yang kini difungsikan sebagai tempat pengungsian menjadi saksi bagaimana kehidupan dipadatkan dalam ruang sempit, dengan fasilitas yang serba terbatas. Kerusakan akses jalan dan infrastruktur publik di beberapa titik turut menghambat distribusi bantuan, membuat pengungsian terasa seperti ruang tunggu tanpa kepastian. Di tengah situasi tersebut, hadir Diah Rezky Amaliah yang akr...

UNM & Dosa Ekologi Berkelanjutan

            Univerisitas Negeri Makassar sebagai kampus dengan label strata yang banyak melahirkan tenaga pendidik atau pelaksana pendidikan dengan suatu konsep yang kami sebut taman ilmu---tempat kesadaran kritis dan moralitas publik bertumbuh. Namun, di tengah gelombang persoalan politik birokrasi dan cita-cita menjadi PTN-BH, sehingga pembangunan dan modernisasi yang terjadi dalam almamater ini justru kehilangan akar ekologisnya. Di atas lahan yang dulunya hijau, gedung-gedung baru berdiri dengan label arsitektur modern yang mencoba memadukan spirit kebudayaan maritim sulawesi selatan terpampang di depan kita. Ironi itu semakin terasa ketika lembaga yang mengajarkan keberlanjutan justru menjadi pelaku kontradiksi ekologis. Penebangan pohon untuk proyek pembangunan bukan hanya soal tata ruang, melainkan krisis kesadaran lingkungan di jantung pendidikan tinggi.           Dalam pandangan p...

DIKLATJUT DIVISI GUNUNG HUTAN : RENUNGAN DALAM MEDAN TERJAL

"Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya." ~Soe Hok Gie               “Pencinta Alam”, kalimat yang mudah diingat dan dekat dengan kehidupan ; Cinta dan Alam. Menjadi bagian dari kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia hari ini. Tumbuh menjadi suatu organisasi yang memiliki sikap “politis” dan tegas pada filosofi ideologis tentang arah warna yang akan di bawahnya dalam membentuk kader dan individu. Demikian hadirlah Pendidikan dan Pelatihan Lanjutan (Diklatjut) Angkatan XXXVII “Amor Fati” Sintalaras UNM, sebagai bagian dari pewarisan semangat pencinta alam menjadi harapan baik dalam penyatuan sikap praktis dan pemahaman teoritis dalam divisi peminatan Gunung-Hutan : bernavigasi lebih dari sekedar kemampuan taktis lapangan---melainkan kontrol diri dan pikiran yang matang dalam menentukan tujuan, beserta segala konse...

DIKLATJUT "PANJAT TEBING" : MEMANJAT DAN TERJATUH DALAM REALITAS PETUALANGAN HARI INI

“Bagiku, ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasakan kedukaan . Tanpa itu semua, kita tidak lebih dari sekadar benda. Berbahagialah mereka yang masih menyimpan cinta, yang belum kehilangan pusaka paling bernilai itu. Sebab jika ia lenyap, absurdlah hidup kita.” ~ Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran .         Kutipan itu menjadi pengantar yang tepat bagi perjalanan kami. Sore menjelang sunyi, rombongan peserta Pendidikan dan Pelatihan Lanjutan Angkatan XXXVII “Amor Fati” Sintalaras UNM tiba di kawasan rimbun bambu, sebuah dusun di Desa Tanete, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Di sinilah proses belajar berlangsung, bukan hanya sebagai jenjang kaderisasi lembaga, melainkan juga sebagai perjalanan batin dan praksis sosial-ekologis.  Diklatjut bukan semata forum peningkatan keterampilan teknis, melainkan wadah untuk menajamkan kesadaran. Ketua tim kerja, Andi Misbah—akrab disapa Al...

GENERASI BARU SINTALARAS : MENENTUKAN JALAN SUNYI DARI GATE CORNER

“ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”- Pramoedya A. Toer      Sebut saja, Gate Corner . Sebuah tempat sederhana, lahirnya aneka cerita yang bertumbuh menjadi romantisme perjalanan dan dinamika organisasi--terekam dari setiap kemesraannya. Terletak di lantai dasar Pusat Kegiatan Mahasiswa UNM, tepat di sisi sudut gazebo yang remang-remang. Tempat yang mengubur ekslusifitas dengan dialog hingga percakapan biasa-biasa saja. Tidak ada hal spesifik tentang keistimewaan mengenai tempat ini, begitu sederhana, kecuali dinding yang di cat berwarna hitam dengan aksen hijau gelap, mirip warna lumut yang samar-samar.      Namun, di balik romantisme itu, sebenarnya adalah bagian dari saksi bisu rangkaian panjang perjalanan hidup dan pemaknaaan sebuah identitas setiap generasi dari Sintalaras. Menyaksikan setiap tonggak di wariskan---gagasan besar bersama cita-cita yang dapat diraih ataupun...