Dalam hentakan modernitas yang kian gaduh mengembangkan layar ancaman tentang potensi perang dunia (konflik Iran melawan AS & Israel) bersama narasi reflektif tentang wahyu untuk “membaca” dengan radikal ayat-ayat kitab suci di momentum bulan ramadan ini, seorang pencinta alam seharusnya turut andil dalam menguak isi renungannya. Pencinta alam kembali di ajak untuk menyaksikan lanskap gunung, hutan, dan sungai sebagai bukan hanya menjadi ruang petualangan romantik. Seorang yang lahir dari renungan semacam itu, mengalami retakan pada tubuh spiritual, juga mungkin kegundahan eksistensialis melihat bumi sebagai tanda dari sebuah krisis yang lebih dalam : krisis peradaban. Jika kemudian di telaah menjadi suatu perspektif progresif yang radikal, ruang-ruang kontemplasi ini mengalami kerusakan lingkungan bukan sekadar akibat kesalahan teknis pengelolaan, melainkan produk dari sistem ekonomi-politik yang menempatkan alam sebagai komoditas belaka. Sesuatu yang lahir dari a...
Di pinggir peradaban, di tempat di mana jalan aspal berhenti dan pohon-pohon mengambil kembali tanahnya, seorang lelaki membangun kabin kecil dari kayu dan kesunyian. Seorang matematikawan yang meninggalkan papan tulis universitas untuk belajar lagi pada lumut, tanah, dan angin. Ia memandang dunia dari jarak jauh dari balik kabut hutan Montana yang lebih jujur daripada kota. Di sana ia membaca peradaban seperti penyakit yang perlahan tumbuh. Kota-kota menjulang seperti monumen bagi mesin. Manusia berjalan cepat tetapi tidak lagi tahu ke mana. Di pabrik dan laboratorium suara logam lebih keras daripada suara sungai. Dan ia berkata pada dirinya sendiri: “Ini bukan kemajuan… Ini adalah penjara yang dibangun manusia untuk dirinya sendiri.” Ia membaca buku-buku yang berbicara tentang nasib teknologi ia menemukan gagasan bahwa teknologi telah menjadi sistem sebuah jaringan raksasa yang tak lagi tunduk pada kehendak manusia. Mesi...