Setiap 26 Juli, dunia kembali mengingat sebuah hutan yang tumbuh dalam kesunyian. Hutan yang tak berdiri di atas tanah yang kokoh, melainkan di antara pertemuan daratan dan lautan. Tempat ombak belajar menahan amarah, lumpur menyimpan kisah kehidupan, dan akar-akar kecil menjadi tangan yang memeluk bumi agar tak hanyut bersama waktu. Mangrove tak pernah meminta namanya ditulis dalam catatan manusia ataupun menunggu penghargaan, perayaan, dan panggung untuk membuktikan keberadaannya. Jauh sebelum manusia mengenal angka emisi, menghitung karbon, dan memberi nilai pada udara yang disimpan bumi, mangrove telah lebih dahulu menjaga pesisir dengan cara yang paling sederhana agar tetap hidup. Selama ribuan tahun mangrove tumbuh dalam kesabaran yang panjang. Pasang datang membawa cerita baru, surut meninggalkan jejak yang berbeda. Garam, air, lumpur, dan cahaya matahari menjadi bahasa yang dipahami akar-akarnya. Dari tempat yang sering dianggap kotor dan berlumpur, kehidupan justru...
Dalam hentakan modernitas yang kian gaduh mengembangkan layar ancaman tentang potensi perang dunia (konflik Iran melawan AS & Israel) bersama narasi reflektif tentang wahyu untuk “membaca” dengan radikal ayat-ayat kitab suci di momentum bulan ramadan ini, seorang pencinta alam seharusnya turut andil dalam menguak isi renungannya. Pencinta alam kembali di ajak untuk menyaksikan lanskap gunung, hutan, dan sungai sebagai bukan hanya menjadi ruang petualangan romantik. Seorang yang lahir dari renungan semacam itu, mengalami retakan pada tubuh spiritual, juga mungkin kegundahan eksistensialis melihat bumi sebagai tanda dari sebuah krisis yang lebih dalam : krisis peradaban. Jika kemudian di telaah menjadi suatu perspektif progresif yang radikal, ruang-ruang kontemplasi ini mengalami kerusakan lingkungan bukan sekadar akibat kesalahan teknis pengelolaan, melainkan produk dari sistem ekonomi-politik yang menempatkan alam sebagai komoditas belaka. Sesuatu yang lahir dari a...