Langsung ke konten utama

Romantisme Yang Membara di Hutan


Di pinggir peradaban, di tempat di mana jalan aspal berhenti
dan pohon-pohon mengambil kembali tanahnya,
seorang lelaki membangun kabin kecil
dari kayu dan kesunyian.

Seorang matematikawan yang meninggalkan papan tulis universitas
untuk belajar lagi pada lumut, tanah, dan angin.

Ia memandang dunia dari jarak jauh

dari balik kabut hutan Montana yang lebih jujur daripada kota.

 

Di sana
ia membaca peradaban seperti penyakit yang perlahan tumbuh.

Kota-kota menjulang seperti monumen bagi mesin.
Manusia berjalan cepat tetapi tidak lagi tahu ke mana.

 

Di pabrik dan laboratorium
suara logam lebih keras daripada suara sungai.

Dan ia berkata pada dirinya sendiri: “Ini bukan kemajuan…
Ini adalah penjara yang dibangun manusia untuk dirinya sendiri.”

 

Ia membaca buku-buku yang berbicara tentang nasib teknologi

ia menemukan gagasan bahwa teknologi telah menjadi sistem

sebuah jaringan raksasa
yang tak lagi tunduk pada kehendak manusia.

 

Mesin melahirkan mesin.
Penemuan melahirkan penemuan.
Dan manusia hanya mengikuti arusnya
seperti daun di sungai.


ia membaca bahwa manusia modern
hanyalah hewan di kebun binatang besar yang hidup aman,
namun kehilangan alam liarnya.

 

Gedung-gedung tinggi adalah kandang.

Jalan raya adalah lorong.

Dan manusia yang sibuk adalah makhluk yang lupa
bagaimana rasanya berburu matahari.

 

ia menemukan kata lain yang terasa seperti luka lama “ketidakberdayaan.”

Bahwa manusia modern hidup di bawah kekuatan yang tak dapat ia ubah.

Krisis ekonomi, Perang, Polusi yang tak terlihat,

Teknologi yang terus tumbuh tanpa bertanya pada siapa pun.

 

Manusia, Pikirnya telah menjadi penonton
dalam kehidupan yang seharusnya ia jalani sendiri.

Di hutan ia menemukan jawaban yang terasa sederhana

kebebasan adalah hidup liar.

Angin tidak meminta izin.
Serigala tidak mematuhi sistem.
Sungai tidak mengikuti undang-undang kota.

Di sana ia meromantisasi alam seperti taman terakhir bagi manusia.

 

Setiap pohon menjadi saksi bahwa dunia pernah bebas.

Setiap burung yang terbang adalah pengingat

bahwa manusia pernah hidup tanpa mesin yang mengawasinya.

 

Namun romantisme itu perlahan berubah bentuk.

Cinta pada hutan menjadi kemarahan pada kota.

Kekaguman pada alam menjadi kebencian pada peradaban.

Ia mulai melihat ilmuwan bukan sebagai pencari pengetahuan,
melainkan sebagai tukang batu yang membangun tembok teknologi.

 

Ia melihat universitas sebagai pabrik ide yang memperkuat sistem.

Dan dalam pikirannya muncul keyakinan yang berbahaya: “bahwa untuk menyelamatkan alam seseorang harus melukai peradaban.”

Bahwa mesin tidak akan berhenti jika tidak dipaksa berhenti.

 

Bahwa terkadang kata-kata tidak cukup keras di kabin kecil itu
ia menulis manifesto tentang dunia yang kehilangan arah.

Tentang manusia yang terperangkap dalam sistem teknologi.

Tentang mimpi untuk menghancurkan mesin agar alam dapat bernapas kembali.

 

Namun hutan tetap sunyi.

Pohon-pohon tidak berbicara tentang bom.

Sungai tidak meminta balas dendam.

Burung-burung tetap bernyanyi tanpa manifesto.

 

Dan di antara keindahan alam yang begitu ia cintai

tersembunyi ironi yang pahit: “bahwa romantisme terhadap alam kadang dapat menumbuhkan keyakinan bahwa kekerasan adalah jalan pulang.”

“Bahwa dalam keheningan hutan seseorang bisa mulai percaya bahwa amarahnya
adalah suara alam itu sendiri.”

Padahal mungkin alam tidak pernah meminta perang.

Ia hanya Liar, diam, dan jauh lebih tua daripada semua mimpi manusia tentang kehancuran peradaban.



Vikha Aprilia Salsabila (Laterit XXXVII)

Makassar, 07 Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi : Membaca Kapitalisme di Raja Ampat dalam Cengkeraman Oligarki

             Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ekstraktif di Raja Ampat bukanlah sekadar tragedi ekologis, melainkan gejala dari sistem kekuasaan yang mengakar. Isu ini tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik antara pembangunan dan konservasi, melainkan sebagai bentuk aktual dari kapitalisme global yang beroperasi melalui persekutuan antara negara dan oligarki domestik. Dalam konteks ini, ekologi menjadi medan kuasa tempat eksploitasi sumber daya dan penindasan sosial berjalan beriringan. Tulisan ini bertujuan membongkar struktur kapitalisme di balik proyek tambang nikel di Raja Ampat, serta menunjukkan bagaimana praktik tersebut merepresentasikan bentuk baru kolonialisme yang berkelindan dengan politik oligarki. Lebih jauh, tulisan ini menawarkan pembacaan alternatif melalui lensa deep ecology dan anarkisme ekologi , yang menantang paradigma dominasi terhadap alam dan masyarakat. Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi ten...

DIKSAR 37 : AMOR FATI DALAM SEBUAH REFLEKSI

"Amor fati: Biarlah itu menjadi cintaku mulai sekarang! Aku tidak ingin berperang melawan apa yang buruk. Aku tidak ingin menuduh; bahkan mereka yang suka menuduh pun tidak akan kutuduh. Menutup mata akan menjadi satu-satunya penolakanku. Dan secara keseluruhan: suatu hari nanti aku ingin menjadi seseorang yang hanya berkata 'ya' terhadap hidup." — Friedrich Nietzsche, The Gay Science      Di tengah pemuda lainnya yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk kuliah atau mencari hiburan di mal, warung-warung kopi, dan tempat semacamnya, mereka justru lebih memilih pergi ke alam terbuka yang jauh dari kata nyaman dan mapan. Tak heran jika kemudian ada sebagian orang yang mengidentikkan anak Mapala dengan individu-individu anti kemapanan atau mahasiswa yang dikenal “paling lama” lulus.      Pada awal mula perkembangan kegiatan kepencintaalaman, fokusnya lebih pada kegiatan konservasi, advokasi, dan pendidikan melalui penjelajahan hutan dan gunung. Kegiatan sepe...

PROFIL UKM SINTALARAS UNM

Hidup Selaras, Manusia dan Alam source : Harian Fajar, 20 November 2011 Nama Sintalaras punya filosofi sendiri. Nama itu singkatan dari Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Para perintis terinspirasi dari