Dalam hentakan modernitas yang kian gaduh mengembangkan layar ancaman tentang potensi perang dunia (konflik Iran melawan AS & Israel) bersama narasi reflektif tentang wahyu untuk “membaca” dengan radikal ayat-ayat kitab suci di momentum bulan ramadan ini, seorang pencinta alam seharusnya turut andil dalam menguak isi renungannya. Pencinta alam kembali di ajak untuk menyaksikan lanskap gunung, hutan, dan sungai sebagai bukan hanya menjadi ruang petualangan romantik. Seorang yang lahir dari renungan semacam itu, mengalami retakan pada tubuh spiritual, juga mungkin kegundahan eksistensialis melihat bumi sebagai tanda dari sebuah krisis yang lebih dalam : krisis peradaban. Jika kemudian di telaah menjadi suatu perspektif progresif yang radikal, ruang-ruang kontemplasi ini mengalami kerusakan lingkungan bukan sekadar akibat kesalahan teknis pengelolaan, melainkan produk dari sistem ekonomi-politik yang menempatkan alam sebagai komoditas belaka. Sesuatu yang lahir dari a...