Potret bisu
digital kontemporer masyarakat urban hari ini, arus informasi bergerak semakin
deras dan bahkan melampaui kesiapan kita untuk memaknainya. Kita tidak lagi
dapat membaca setiap unggahan sebagai sesuatu yang bekerja secara netral. Algoritma
platform meramu suatu format For You Page (FYP) yang berfungsi
menjadi suatu mesin seleksi yang mengutamakan konten berdaya tarik tinggi
visual spektakuler, narasi pemulihan diri, dan pengalaman yang dapat
direplikasi dengan tumbuhan narasi reflektif.
Dalam skala
ini, individu tidak lagi memandang alam sebagai wilayah hidup, melainkan
sebagai objek sirkulasi simbolik sebagai tanda dan nilai yang mereka siapkan
untuk diterjemahkan menjadi atensi. Algoritma tidak menciptakan pasar,
tetapi ia mempercepat dan menstabilkan logika pasar yang telah ada, konsumsi
dengan hegemoni setiap hari.
FYP bekerja
sebagai penyaring pra-ekonomi. Ia menguji konten bukan berdasarkan nilai
ekologisnya, melainkan berdasarkan potensi keterlibatan. Konten alam
dianggap “berhasil” ketika audiens dengan mudah mengonsumsinya, mengenali unsur
kekinian di dalamnya mulai dari estetika musik viral, pose-pose nyentrik,
hingga barang-barang bermerek yang menjual satu paket citra eksistensi bernama
“kalcer” serta ketika mereka dapat dengan mudah membayangkannya ulang sebagai
pengalaman personal.
Dengan
demikian, sebelum jasa wisata bergerak, sebelum tiket registrasi dijual, alam
telah lebih dulu diproduksi sebagai imaji yang serasi dengan gaya konsumsi.
Inilah tahap awal komodifikasi: kamuflase transaksi dan rekonstruksi persepsi.
Di titik inilah penyedia jasa trip masuk sebagai aktor penerjemah. Mereka tidak
menciptakan hasrat, melainkan mengemasnya menjadi akses yang mencoba memenuhi
hasrat FOMO terhadap pasar.
Algoritma
memproduksi keinginan, jasa trip memproduksi kemungkinan. Melalui sistem open
trip, gunung telah menjadi wilayah yang menuntut relasi pasar produk yang siap
dikonsumsi. Kompleksitas ekologis dan sosial disederhanakan agar sesuai dengan
ritme pasar dan waktu luang kelas urban.
Kelompok
pencinta alam, yang secara historis memiliki posisi ambigu antara konservasi
dan eksplorasi, sering kali terseret ke dalam fungsi legitimasi. Dengan bahasa
etika, disiplin, dan kecintaan pada alam, mereka menjadi jembatan moral antara
pasar dan publik yang sarat pada kedok semata.
Praktik
pendakian direpresentasikan sebagai aktivitas bernilai, selama memenuhi standar
tertentu. Namun standar ini kerap berfokus pada perilaku individu, seperti
sampah, unggahan, etika personal. Bukan pada struktur akses dan industri yang
menopangnya. Di sini, moralitas berfungsi sebagai penutup relasi kuasa.
Influencer
kemudian memainkan peran simbolik paling penting dalam berbagai platform sosial
media mereka. Mereka adalah wajah manusia dari logika pasar yang telah dipermak
menjadi narasi personal. Dengan estetika keintiman dan bahasa refleksi diri,
pengalaman yang sesungguhnya terstruktur oleh industri dipresentasikan sebagai
perjalanan otentik.
Influencer
tidak sekadar mempromosikan tempat; mereka menerjemahkan komoditas menjadi
makna. Alam menjadi latar pembentukan identitas, penyembuhan, dan pencapaian
diri yang berakibat pada nilai-nilai yang sangat kompatibel dengan kapitalisme
pengalaman. Ketika kerusakan ekologis mulai terlihat, narasi berbalik arah.
Aktivisme hijau moralistik muncul sebagai respons, namun bergerak di jalur yang
sama: jalur individualisasi. Publikasi disalahkan sebagai promosi, kehadiran
dipertanyakan, dan solusi ditawarkan dalam bentuk penarikan diri berhenti
mengunggah, berhenti naik gunung. Kritik diarahkan ke hilir, bukan ke hulu.
Algoritma tidak disentuh, jasa trip tetap berjalan, dan industri ekowisata
terus beroperasi dengan wajah yang lebih “sadar lingkungan”.
Dalam kerangka
ini, seruan berhenti naik gunung bukanlah interupsi terhadap sistem, melainkan
dorongan koreksi moral yang aman. Ia tidak mengganggu arus nilai, hanya
mengatur siapa yang pantas merasa bersalah. Alam tetap berada dalam kalkulasi
ekonomi, tetapi dibungkus dengan etika hijau yang menenangkan. Moralitas
menggantikan politik, dan rasa bersalah menggantikan pembongkaran struktur.
Salah satu
aliran filsafat, melalui perspektif anarko-ekologi, menafsirkan bahwa substansi
persoalan tidak terletak pada banyaknya representasi atau kehadiran, melainkan
pada rantai penerjemahan kuasa: dari algoritma ke imaji, dari imaji ke jasa,
dari jasa ke legitimasi moral, dan dari legitimasi ke pendisiplinan individu.
Selama rantai
ini tidak diputus, setiap solusi yang bertumpu pada etika personal hanya akan
memperpanjang ilusi perubahan, sambil menjaga logika pasar tetap utuh. Paradoks
kemudian hidup dalam suatu tanya tentang tujuan dari aktivitas pendakian,
sebagai kontestasi atau refleksi terhadap tanya yang tiada habisnya.
Makassar, 07 Januari 2026
Alviandi @bimbimjugamanusia

Komentar
Posting Komentar