Langsung ke konten utama

Larasati : Catatan Psikososial dari Pengungsian Banjir Aceh Utara


        Aceh Utara --- Banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya pada akhir Desember 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah jeda panjang yang memisahkan ribuan orang dari rumah, rutinitas, dan rasa aman mereka. Tagar #PrayForSumatera memang sempat bergema di media sosial, namun di lapangan, terutama di Desa Rumoh Rayuek, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dampak bencana masih terasa nyata---terutama bagi anak-anak.

Sekitar 200 anak tercatat terdampak langsung. Mereka kehilangan rumah, ruang bermain, dan kepastian akan hari esok. Area pasar desa yang kini difungsikan sebagai tempat pengungsian menjadi saksi bagaimana kehidupan dipadatkan dalam ruang sempit, dengan fasilitas yang serba terbatas. Kerusakan akses jalan dan infrastruktur publik di beberapa titik turut menghambat distribusi bantuan, membuat pengungsian terasa seperti ruang tunggu tanpa kepastian.



Di tengah situasi tersebut, hadir Diah Rezky Amaliah yang akrab disapa Lavender. Perempuan berdarah Enrekang ini terlibat langsung sebagai relawan kemanusiaan. Sebagai insan pencinta alam, ia membawa pendekatan yang berbeda: menyentuh luka yang tak kasat mata. Baginya, bencana bukan hanya soal air yang meluap dan tanah yang runtuh, tetapi juga tentang batin yang retak perlahan.

Melalui pendekatan integrasi psikososial, Lavender yang merupakan nama lapangan---berupaya memulihkan kembali keseimbangan emosional dan hubungan sosial masyarakat terdampak, khususnya anak-anak. Pendekatan ini menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan juga menyentuh aspek psikologis dan sosial yang sering luput dari perhatian. Sebab, anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Mereka belum memiliki kemampuan yang memadai untuk memahami kehilangan, perubahan drastis, dan ketidakpastian. Di pengungsian, banyak anak menunjukkan gejala stres: mudah menangis, sulit tidur, menarik diri, hingga kehilangan minat bermain. Pasar yang menjadi riuh karena menjadi ruang pengungsian dengan minimnya ruang pribadi, dan absennya rutinitas membuat hari-hari mereka terasa panjang dan membingungkan—seperti pagi yang kehilangan matahari.

Berbekal pengalamannya sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah dasar Bumi Massenrempulu, Lavender membangun ruang aman ramah anak melalui pendampingan emosional, aktivitas bermain, dan belajar sederhana. Tawa anak-anak perlahan kembali terdengar—bukan karena luka mereka telah sembuh sepenuhnya, melainkan karena ada tangan yang menggenggam dan telinga yang bersedia mendengar. Dalam konteks ini, bermain menjadi bahasa pemulihan, dan kebersamaan menjadi obat yang paling manusiawi. Upaya integrasi psikososial ini menjadi langkah penting untuk mencegah trauma jangka panjang. Lebih dari itu, pendekatan tersebut membantu menumbuhkan kembali harapan, memperkuat rasa kebersamaan, serta membangun ketahanan mental anak-anak di tengah keterbatasan. Sebab, ketika air telah surut, pekerjaan kemanusiaan justru baru dimulai.

Misi ini menegaskan bahwa peran pencinta alam tidak berhenti pada pelestarian lingkungan, tetapi juga hadir sebagai penjaga nilai kemanusiaan. Kader Sintalaras sebagai relawan  menunjukkan bahwa intelektual muda bukan hanya mereka yang fasih berbicara di ruang diskusi, melainkan mereka yang bersedia turun ke lumpur, duduk di lantai pengungsian, dan mendengarkan cerita anak-anak yang kehilangan rumahnya. Di Desa Rumoh Rayuek, solidaritas bukan sekadar slogan. Ia menjelma menjadi kehadiran, pendampingan, dan harapan—bahwa di tengah bencana, kemanusiaan tetap menemukan jalannya.

 

Makassar, 1 Januari 2026

Alviandi (@bimbimjugamanusia)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi : Membaca Kapitalisme di Raja Ampat dalam Cengkeraman Oligarki

             Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ekstraktif di Raja Ampat bukanlah sekadar tragedi ekologis, melainkan gejala dari sistem kekuasaan yang mengakar. Isu ini tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik antara pembangunan dan konservasi, melainkan sebagai bentuk aktual dari kapitalisme global yang beroperasi melalui persekutuan antara negara dan oligarki domestik. Dalam konteks ini, ekologi menjadi medan kuasa tempat eksploitasi sumber daya dan penindasan sosial berjalan beriringan. Tulisan ini bertujuan membongkar struktur kapitalisme di balik proyek tambang nikel di Raja Ampat, serta menunjukkan bagaimana praktik tersebut merepresentasikan bentuk baru kolonialisme yang berkelindan dengan politik oligarki. Lebih jauh, tulisan ini menawarkan pembacaan alternatif melalui lensa deep ecology dan anarkisme ekologi , yang menantang paradigma dominasi terhadap alam dan masyarakat. Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi ten...

DIKSAR 37 : AMOR FATI DALAM SEBUAH REFLEKSI

"Amor fati: Biarlah itu menjadi cintaku mulai sekarang! Aku tidak ingin berperang melawan apa yang buruk. Aku tidak ingin menuduh; bahkan mereka yang suka menuduh pun tidak akan kutuduh. Menutup mata akan menjadi satu-satunya penolakanku. Dan secara keseluruhan: suatu hari nanti aku ingin menjadi seseorang yang hanya berkata 'ya' terhadap hidup." — Friedrich Nietzsche, The Gay Science      Di tengah pemuda lainnya yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk kuliah atau mencari hiburan di mal, warung-warung kopi, dan tempat semacamnya, mereka justru lebih memilih pergi ke alam terbuka yang jauh dari kata nyaman dan mapan. Tak heran jika kemudian ada sebagian orang yang mengidentikkan anak Mapala dengan individu-individu anti kemapanan atau mahasiswa yang dikenal “paling lama” lulus.      Pada awal mula perkembangan kegiatan kepencintaalaman, fokusnya lebih pada kegiatan konservasi, advokasi, dan pendidikan melalui penjelajahan hutan dan gunung. Kegiatan sepe...

PROFIL UKM SINTALARAS UNM

Hidup Selaras, Manusia dan Alam source : Harian Fajar, 20 November 2011 Nama Sintalaras punya filosofi sendiri. Nama itu singkatan dari Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Para perintis terinspirasi dari