Langsung ke konten utama

IQRA : MOMENTUM RAMADAN SEBAGAI IBADAH EKOLOGIS SEORANG PENCINTA ALAM.

 



Dalam hentakan modernitas yang kian gaduh mengembangkan layar ancaman tentang potensi perang dunia (konflik Iran melawan AS & Israel) bersama narasi reflektif tentang wahyu untuk “membaca” dengan radikal ayat-ayat kitab suci di momentum bulan ramadan ini, seorang pencinta alam seharusnya turut andil dalam menguak isi renungannya.

Pencinta alam kembali di ajak untuk menyaksikan lanskap gunung, hutan, dan sungai sebagai bukan hanya menjadi ruang petualangan romantik. Seorang yang lahir dari renungan semacam itu, mengalami retakan pada tubuh spiritual, juga mungkin kegundahan eksistensialis melihat bumi sebagai tanda dari sebuah krisis yang lebih dalam : krisis peradaban. Jika kemudian di telaah menjadi suatu perspektif progresif yang radikal, ruang-ruang kontemplasi ini mengalami kerusakan lingkungan bukan sekadar akibat kesalahan teknis pengelolaan, melainkan produk dari sistem ekonomi-politik yang menempatkan alam sebagai komoditas belaka.  Sesuatu yang lahir dari akumulasi yang tak pernah kenyang.

Gunung dilubangi bukan hanya untuk mineral, tetapi untuk memuaskan mesin kapital yang terus meminta bahan bakar. Kita kian menangkap suatu sisi dari “alam” ini yang menjadi saksi sunyi dari sebuah paradoks---manusia yang mengaku beradab justru menghancurkan rumahnya sendiri.

Di sinilah tugas seorang pencinta alam, apalagi seorang mahasiswa yang tumbuh dalam ruang-ruang akademis, sebagai intelektual muda sekaligus cermin moral gerakan pembaharuan berbicara : membaca. Mengintegrasi pemahaman tentang wahyu pertama dalam tradisi Islam, iqra, bukan hanya seruan untuk menekuni huruf-huruf kitab, tetapi juga panggilan untuk membaca semesta.

Membaca hutan yang menipis, membaca sungai yang keruh, membaca udara yang semakin berat oleh asap industri. Alam adalah teks raksasa yang terus berbicara, namun sering diabaikan oleh manusia modern yang terlalu sibuk dan bahkan makin jauh terasing pada kediriannya dalam arus digitalisasi---kesadaran palsu.

Dalam pengertian ini, kegiatan petualangan bisa menjadi tindakan epistemologis, sebuah upaya membaca realitas dari dekat. Sebab di tengah sunyi hutan, kita menyadari bahwa bumi memiliki ritmenya sendiri, ritme yang selama ini dirusak oleh keserakahan sistem yang memuja pertumbuhan tanpa batas.

Momentum Ramadan oleh seorang yang kerap menggaungkan kode etik di serangkain kegiatan formalnya, seharusnya menghadirkan dimensi refleksi yang lebih dalam terhadap situasi semacam di atas. Mengabstraksi lebih dalam makna teologis hingga ekologis dalam berpuasa, sebab puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan etis untuk mengendalikan hasrat. Dalam masyarakat yang dibentuk oleh logika “pasar bebas” seolah tak pernah memberi ruang untuk jeda, puasa adalah bentuk perlawanan halus terhadap budaya “maniak”. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak harus mengambil semua yang tersedia di hadapannya. Ada batas yang harus dihormati, ada keseimbangan yang perlu dijaga. Dalam konteks ekologis, puasa dapat dimaknai sebagai disiplin spiritual yang menantang logika eksploitasi : bahwa bumi bukan ladang tanpa ujung bagi keserakahan manusia, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab kolektif.

Karena itu, bagi seorang pencinta alam, Ramadan dapat menjadi ruang kontemplasi tentang hubungan manusia, alam, dan kekuasaan. Ketika dunia sibuk menyiapkan senjata dan strategi perang demi menguasai sumber daya, puasa justru mengingatkan manusia pada hal yang lebih mendasar: kemampuan untuk menahan diri. Mungkin di situlah letak revolusi yang paling sunyi namun paling radikal---bukan pada perebutan bumi, tetapi pada kesadaran untuk hidup selaras dengannya. Dan dari sapaan kabut dingin gunung yang sepi, seorang pencinta alam belajar bahwa masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik atau militer, melainkan oleh sejauh mana manusia mampu membaca bumi dan menahan dirinya dari menghancurkannya.

 

 

 

Makassar, 15 Maret 2026

Alviandi (NRA.26/STL-XXXV/BS. 558)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi : Membaca Kapitalisme di Raja Ampat dalam Cengkeraman Oligarki

             Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ekstraktif di Raja Ampat bukanlah sekadar tragedi ekologis, melainkan gejala dari sistem kekuasaan yang mengakar. Isu ini tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik antara pembangunan dan konservasi, melainkan sebagai bentuk aktual dari kapitalisme global yang beroperasi melalui persekutuan antara negara dan oligarki domestik. Dalam konteks ini, ekologi menjadi medan kuasa tempat eksploitasi sumber daya dan penindasan sosial berjalan beriringan. Tulisan ini bertujuan membongkar struktur kapitalisme di balik proyek tambang nikel di Raja Ampat, serta menunjukkan bagaimana praktik tersebut merepresentasikan bentuk baru kolonialisme yang berkelindan dengan politik oligarki. Lebih jauh, tulisan ini menawarkan pembacaan alternatif melalui lensa deep ecology dan anarkisme ekologi , yang menantang paradigma dominasi terhadap alam dan masyarakat. Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi ten...

DIKSAR 37 : AMOR FATI DALAM SEBUAH REFLEKSI

"Amor fati: Biarlah itu menjadi cintaku mulai sekarang! Aku tidak ingin berperang melawan apa yang buruk. Aku tidak ingin menuduh; bahkan mereka yang suka menuduh pun tidak akan kutuduh. Menutup mata akan menjadi satu-satunya penolakanku. Dan secara keseluruhan: suatu hari nanti aku ingin menjadi seseorang yang hanya berkata 'ya' terhadap hidup." — Friedrich Nietzsche, The Gay Science      Di tengah pemuda lainnya yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk kuliah atau mencari hiburan di mal, warung-warung kopi, dan tempat semacamnya, mereka justru lebih memilih pergi ke alam terbuka yang jauh dari kata nyaman dan mapan. Tak heran jika kemudian ada sebagian orang yang mengidentikkan anak Mapala dengan individu-individu anti kemapanan atau mahasiswa yang dikenal “paling lama” lulus.      Pada awal mula perkembangan kegiatan kepencintaalaman, fokusnya lebih pada kegiatan konservasi, advokasi, dan pendidikan melalui penjelajahan hutan dan gunung. Kegiatan sepe...

PROFIL UKM SINTALARAS UNM

Hidup Selaras, Manusia dan Alam source : Harian Fajar, 20 November 2011 Nama Sintalaras punya filosofi sendiri. Nama itu singkatan dari Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Para perintis terinspirasi dari