Langsung ke konten utama

Hari Mangrove Sedunia: Ketika Alam Dinilai dari Angka Karbon


 


Setiap 26 Juli, dunia kembali mengingat sebuah hutan yang tumbuh dalam kesunyian. Hutan yang tak berdiri di atas tanah yang kokoh, melainkan di antara pertemuan daratan dan lautan. Tempat ombak belajar menahan amarah, lumpur menyimpan kisah kehidupan, dan akar-akar kecil menjadi tangan yang memeluk bumi agar tak hanyut bersama waktu. Mangrove tak pernah meminta namanya ditulis dalam catatan manusia ataupun menunggu penghargaan, perayaan, dan panggung untuk membuktikan keberadaannya. Jauh sebelum manusia mengenal angka emisi, menghitung karbon, dan memberi nilai pada udara yang disimpan bumi, mangrove telah lebih dahulu menjaga pesisir dengan cara yang paling sederhana agar tetap hidup.

Selama ribuan tahun mangrove tumbuh dalam kesabaran yang panjang. Pasang datang membawa cerita baru, surut meninggalkan jejak yang berbeda. Garam, air, lumpur, dan cahaya matahari menjadi bahasa yang dipahami akar-akarnya. Dari tempat yang sering dianggap kotor dan berlumpur, kehidupan justru menemukan rumah pertamanya. Di antara akar yang saling berpelukan, ikan kecil belajar mengenal arus, udang dan kepiting menemukan ruang untuk bertumbuh, burung menemukan tempat singgah, dan manusia pesisir menemukan harapan untuk melanjutkan kehidupan.

Kesunyian yang dijaga mangrove selama berabad-abad ternyata bukan kisah kecil. Di balik akar yang tenggelam dalam lumpur, tersimpan bentang ekosistem pesisir yang menjadi salah satu penyangga kehidupan terbesar di dunia. Indonesia bahkan menjadi rumah bagi ekosistem mangrove terluas di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup Tahun 2024 mencatat luas habitat mangrove Indonesia mencapai 3.440.464 hektare, dengan potensi habitat sekitar 769.824 hektare yang masih dapat dipulihkan. Di Sulawesi Selatan, luas mangrove tercatat sekitar 10.801 hektare dengan potensi habitat mencapai 124.561 hektare. Bentang pesisir tersebut bukan sekadar hamparan vegtasi, melainkan benteng alami yang meredam abrasi, ruang pembesaran berbagai biota laut, sekaligus penyimpan blue carbon yang mampu mengikat karbon beberapa kali lebih besar dibandingkan banyak ekosistem daratan.

Ironisnya bentang yang begitu luas tak membuat mangrove terbebas dari ancaman. Deforestasi mangrove masih berlangsung dengan laju sekitar 26.100 hektare per tahun, terutama pada kawasan yang perlindungannya lemah. Konversi menjadi tambak menjadi tekanan terbesar, disusul reklamasi, pembangunan kawasan industri, pelabuhan, dan perluasan permukiman pesisir. Di sinilah paradoks mulai terlihat: pembangunan kerap memperoleh ruang lebih luas dibandingkan perlindungan, sementara rehabilitasi baru dilakukan setelah kerusakan terjadi.

Paradoks tersebut semakin terasa ketika sebagian pembangunan nasional justru menempatkan kawasan pesisir sebagai ruang investasi. Reklamasi, perluasan kawasan industri, pembangunan pelabuhan, hingga ekspansi tambak intensif berulang kali mempersempit ruang hidup mangrove. Di banyak tempat, perlindungan baru memperoleh perhatian setelah konflik ruang muncul atau kerusakan telah sulit dipulihkan. Konservasi akhirnya lebih sibuk memperbaiki kehilangan daripada mencegahnya. Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan mangrove masih kerap ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan, bukan sebagai batas yang semestinya menentukan arah pembangunan itu sendiri.

~~

Mangrove bukan sekadar barisan pohon yang berdiri di tepi laut.

Ia adalah jantung kecil yang berdetak dalam diam,

Menjaga keseimbangan antara daratan yang rapuh dan lautan yang luas.

Namun ketika manusia mulai mengenal cara baru dalam memandang mangrove.

Perlahan ia tak lagi dilihat sebagai rumah kehidupan,

Melainkan sebagai penyimpan angka.

~~

Pergeseran cara pandang tersebut tampak sederhana, tetapi membawa perubahan besar dalam hubungan manusia dengan alam. Hutan yang dahulu dipahami sebagai ruang kehidupan perlahan diterjemahkan menjadi aset ekologis yang dapat dihitung, dinilai, bahkan diperdagangkan. Dari sinilah logika karbon mulai mengambil tempat dalam percakapan global mengenai konservasi.

Karbon yang tersimpan dalam batang, akar, dan lumpur menjadi bahasa baru dalam percakapan tentang penyelamatan bumi. Tak ada yang salah dengan memahami kemampuan alam menyimpan karbon. Pengetahuan tersebut membuka jalan bagi upaya menghadapi krisis iklim. Akan tetapi, ketika karbon mulai diberi harga, ketika hutan mulai diterjemahkan melalui angka, ketika kehidupan mulai dihitung melalui tabel dan laporan, terdapat sesuatu yang perlahan hilang, yaitu hubungan manusia dengan alam itu sendiri. Mangrove kemudian berada dalam paradoks yang sunyi. Ia dipuji karena mampu menyimpan karbon, tetapi sering dilupakan karena telah menjaga kehidupan jauh sebelum karbon menjadi perhatian dunia. Ia dihitung dari jumlah ton karbon yang terkunci dalam lumpur.

Di Indonesia, kisah mangrove juga menyimpan luka panjang. Kerusakan tak selalu hadir dalam bentuk pembabatan besar-besaran. Ia berlangsung perlahan melalui alih fungsi lahan, pencemaran, konflik ruang, dan pembangunan yang menggerus pesisir sedikit demi sedikit. Hutan yang memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun untuk membangun keseimbangan dapat hilang dalam waktu yang jauh lebih singkat. Sebaliknya, pemulihan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang daripada proses penghancurannya.

~~

Ketika kerusakan telah terjadi,

Manusia kembali datang membawa bibit dan janji pemulihan.

Ribuan pohon ditanam,

Angka keberhasilan diumumkan,

Foto-foto penghijauan beredar,

Lalu keberhasilan dirayakan.

Akan tetapi,

Alam tak pernah bekerja secepat laporan manusia.

~~

Sebatang bibit muda tak mampu menggantikan hutan tua yang telah menyimpan ingatan bumi selama puluhan tahun. Akar yang baru tumbuh belum mengenal seluruh rahasia lumpur. Daun yang baru membuka belum mampu menggantikan kanopi yang telah lama menaungi kehidupan. Sebab hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang dapat diganti melalui jumlah. Hutan adalah waktu yang tumbuh, hubungan yang terbentuk, dan kehidupan yang saling menjaga.

Di sinilah kritik terhadap kebijakan konservasi mulai menemukan ruangnya. Ketika keberhasilan hanya diukur melalui berapa banyak bibit yang ditanam, berapa luas lahan yang tercatat, dan berapa besar karbon yang dapat diklaim, konservasi berisiko kehilangan makna terdalamnya. Alam berubah menjadi angka, sementara angka sering kali tak mampu menceritakan luka yang tersembunyi. Karbon yang semula menjadi harapan bagi bumi juga dapat berubah menjadi alat baru untuk menyembunyikan kerusakan.

Green carbon yang seharusnya menjadi jalan menuju pemulihan dapat disalahgunakan sebagai hiasan hijau bagi kepentingan tertentu. Sebuah aktivitas dapat terlihat ramah lingkungan karena membawa nama karbon, sementara akar persoalan ekologis tetap dibiarkan tumbuh. Di situlah greenwashing menemukan tempatnya. Alam dipoles menjadi cerita indah, pohon ditampilkan sebagai simbol kepedulian, dan karbon dijadikan bahasa penyelamatan. Padahal, di balik angka-angka tersebut masih terdapat pertanyaan yang belum selesai: “Siapa yang menjaga hutan setelah kamera pergi?” Siapa yang memastikan kehidupan pesisir tetap bertahan setelah laporan selesai dibuat?”

Ironi terbesar muncul ketika kerusakan ekologis tak lagi disembunyikan, melainkan dikompensasi melalui narasi keberlanjutan. Penanaman pohon dijadikan bukti kepedulian, sertifikat karbon dijadikan simbol tanggung jawab, sementara penyebab utama kerusakan tetap berlangsung. Di atas laporan, emisi tampak menurun. Di lapangan, ruang hidup pesisir terus menyempit. Greenwashing akhirnya bukan sekadar persoalan citra, melainkan persoalan kejujuran dalam memaknai konservasi.

Perdebatan mengenai cara manusia memandang alam juga muncul dalam filsafat teknologi. Salah satu kritik terhadap masyarakat tekno-industrial yang cukup banyak dibahas dalam filsafat teknologi berasal dari Theodore Kaczynski melalui Industrial Society and Its Future. Terlepas dari tindakan kriminal yang dilakukannya dan sama sekali tak dapat dibenarkan, kritiknya terhadap masyarakat tekno-industrial tetap menjadi bahan diskusi dalam kajian filsafat teknologi dan etika lingkungan. Dalam manifesto tersebut, ia membuka pembahasannya dengan kalimat: "The Industrial Revolution and its consequences have been a disaster for the human race." Kritik tersebut berangkat dari pandangan bahwa alam semakin diperlakukan sebagai objek yang harus dikendalikan, dioptimalkan, dan diukur demi memenuhi kebutuhan sistem.

Kritik tersebut tak mengajak manusia menolak ilmu pengetahuan ataupun mengabaikan pentingnya mitigasi perubahan iklim. Kritik tersebut justru mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan konservasi tidk dapat berhenti pada hal-hal yang mudah dihitung. Di luar angka karbon, masih terdapat hubungan ekologis yang jauh lebih kompleks dan tak seluruhnya dapat diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi. Kritik inilah yang memberikan ruang refleksi terhadap cara manusia modern memandang mangrove. Pengakuan terhadap kemampuan mangrove menyerap karbon memang penting dalam menghadapi krisis iklim.

Apabila perlindungan mangrove hanya didorong oleh nilai karbon yang dapat dihitung dan diperdagangkan, maka hutan pesisir berisiko kehilangan makna ekologisnya yang jauh lebih luas. Mangrove dipertahankan karena nilai karbonnya, bukan karena ia menjadi rumah bagi ribuan spesies, pelindung garis pantai, penyokong kehidupan masyarakat pesisir, dan penyangga keseimbangan ekosistem. Pandangan tersebut juga mengingatkan bahwa nilai ekologis tak selalu dapat diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi. Mangrove bukan sekadar penyerap karbon, melainkan ruang yang menyatukan hubungan antara manusia, laut, daratan, dan keberlangsungan berbagai spesies. Ketika hubungan tersebut dipersempit menjadi angka, konservasi kehilangan sebagian makna yang selama ini ingin dipertahankan.

Dalam konteks inilah kritik Kaczynski menjadi relevan sebagai bahan renungan. Sistem modern dapat mengadopsi narasi pelestarian lingkungan, tetapi tetap memandang alam terutama melalui manfaat yang dapat diukur bagi keberlangsungan sistem itu sendiri. Sebab ketika manusia terlalu sibuk mengukur segala sesuatu, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk merasakan. Ketika hutan hanya dilihat dari jumlah karbon yang tersimpan, manusia dapat lupa bahwa di dalam lumpur terdapat kehidupan, di dalam akar terdapat perjalanan waktu, dan di balik pepohonan terdapat keseimbangan yang tak dapat dihitung sepenuhnya.

~~

Mangrove tak pernah tumbuh demi menjadi angka dalam laporan emisi.

Ia tak pernah meminta dihargai melalui sertifikat karbon ataupun grafik keberhasilan.

Ia tumbuh karena kehidupan membutuhkan tempat untuk kembali.

Maka Hari Mangrove Sedunia seharusnya

Tak berhenti pada perayaan, penanaman, atau penghitungan karbon.

Ia seharusnya menjadi pengingat

Bahwa tantangan terbesar bukan sekadar meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon,

Melainkan mengembalikan cara pandang terhadap alam.

Selama mangrove hanya diperlakukan sebagai aset karbon,

Ia akan terus berada dalam logika pasar, pembangunan, dan kepentingan sistem.

Padahal ia telah menjadi penjaga kehidupan jauh sebelum manusia menemukan cara menghitung nilainya.

~~

Hari Mangrove Sedunia pada akhirnya bukan sekadar momentum untuk mengenang fungsi ekologis mangrove ataupun memperingati besarnya cadangan karbon yang tersimpan di dalamnya. Momentum tersebut semestinya menjadi kesempatan untuk meninjau kembali cara manusia memaknai pembangunan, konservasi, dan hubungan dengan alam. Sebab konservasi bukan tentang berapa banyak bibit yang berhasil ditanam, melainkan tentang apakah kehidupan kembali menemukan jalannya. Bukan tentang berapa banyak karbon yang berhasil disimpan, melainkan tentang apakah hutan masih mampu menjadi rumah.

Mangrove tak pernah membutuhkan manusia untuk memberinya nilai, sebab kehidupan telah lebih dahulu memberinya makna. Justru manusialah yang membutuhkan mangrove agar garis pantai tetap berdiri, laut tetap melahirkan kehidupan, dan bumi tetap memiliki ruang untuk bernapas. Ketika akar-akar mangrove masih memeluk lumpur, ombak masih menemukan batasnya, dan kehidupan masih bertumbuh di antara sunyi pesisir, bumi sedang mengingatkan satu hal sederhana: “Hutan tak pernah tumbuh untuk menjadi angka. Hutan tumbuh agar kehidupan tetap memiliki tempat untuk bertahan.”

 

Vikha Aprilia Salsabila (Laterit)

Angkatan XXXVII

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL SINTALARAS UNM

Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras, yang kemudian disingkat SINTALARAS merupakan wadah para Mahasiswa Pencinta Alam / Lingkungan Hidup. Wadah tersebut pada awalnya adalah Mapala Geografi IKIP Ujung Pandang yang kemudian ditingkatkan statusnya Pada Tanggal 20 Desember 1984, dengan nama Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras (SINTALARAS) yang berkedudukan di tingkat Universitas.Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras (SINTALARAS) sejak berdirinya sampai saat ini memiliki orientasi pada pengembangan dan pelestarian lingkungan hidup serta pembinaan generasi muda sebagai eksistensi organisasi. Pemahaman tentang pengetahuan lingkungan hidup di awali dengan bentuk pelatihan dasar kepencintaalaman guna menanamkan pola pikir dan yang kemudian diharapkan mampu bersikap mencintai lingkungan hidup. Pembinaan tersebut terjadi secara berkelanjutan dalam bentuk pengkaderan dalam organisasi dengan segala bentuk tingkatan-tingkatan yang berada dalam organisasi sebagai organisasi pengk...

Sejarah Pecinta Alam di Indonesia

Kalau kita putar mesin waktu kita, sebenarnya "orang orang PA" itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Tahun 1912,di Nusantara sudah ada yang namanya De Nederlandsh Indische Vereneging Tot Natuur Rescherming. kita memang tidak atahu apa artinya, tapi yang jelas ada kata Natuur-nya tuh (hehehe!!!!). Hingga pada tahun 1937 terbentuklah Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Inilah kegiatan kepencintaalaman mulai aktif. Istilah pecinta alam sendiri di gagaskan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Sdr. Soe sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah...

PROFIL UKM SINTALARAS UNM

Hidup Selaras, Manusia dan Alam source : Harian Fajar, 20 November 2011 Nama Sintalaras punya filosofi sendiri. Nama itu singkatan dari Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Para perintis terinspirasi dari