Setiap 26 Juli, dunia kembali mengingat sebuah hutan yang tumbuh dalam kesunyian. Hutan yang tak berdiri di atas tanah yang kokoh, melainkan di antara pertemuan daratan dan lautan. Tempat ombak belajar menahan amarah, lumpur menyimpan kisah kehidupan, dan akar-akar kecil menjadi tangan yang memeluk bumi agar tak hanyut bersama waktu. Mangrove tak pernah meminta namanya ditulis dalam catatan manusia ataupun menunggu penghargaan, perayaan, dan panggung untuk membuktikan keberadaannya. Jauh sebelum manusia mengenal angka emisi, menghitung karbon, dan memberi nilai pada udara yang disimpan bumi, mangrove telah lebih dahulu menjaga pesisir dengan cara yang paling sederhana agar tetap hidup. Selama ribuan tahun mangrove tumbuh dalam kesabaran yang panjang. Pasang datang membawa cerita baru, surut meninggalkan jejak yang berbeda. Garam, air, lumpur, dan cahaya matahari menjadi bahasa yang dipahami akar-akarnya. Dari tempat yang sering dianggap kotor dan berlumpur, kehidupan justru...