Langsung ke konten utama

DIKSAR 37 : AMOR FATI DALAM SEBUAH REFLEKSI



"Amor fati: Biarlah itu menjadi cintaku mulai sekarang! Aku tidak ingin berperang melawan apa yang buruk. Aku tidak ingin menuduh; bahkan mereka yang suka menuduh pun tidak akan kutuduh. Menutup mata akan menjadi satu-satunya penolakanku. Dan secara keseluruhan: suatu hari nanti aku ingin menjadi seseorang yang hanya berkata 'ya' terhadap hidup."
— Friedrich Nietzsche, The Gay Science

    Di tengah pemuda lainnya yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk kuliah atau mencari hiburan di mal, warung-warung kopi, dan tempat semacamnya, mereka justru lebih memilih pergi ke alam terbuka yang jauh dari kata nyaman dan mapan. Tak heran jika kemudian ada sebagian orang yang mengidentikkan anak Mapala dengan individu-individu anti kemapanan atau mahasiswa yang dikenal “paling lama” lulus.

    Pada awal mula perkembangan kegiatan kepencintaalaman, fokusnya lebih pada kegiatan konservasi, advokasi, dan pendidikan melalui penjelajahan hutan dan gunung. Kegiatan seperti susur goa, panjat tebing, dan arung jeram kala itu masih belum umum. Seiring waktu, kelompok ini mulai dilihat sebagai sebuah alternatif gerakan yang mengkritisi kebijakan-kebijakan eksploitatif yang menindas kaum minoritas, termasuk mereka yang mengatasnamakan rakyat namun sejatinya menggerakkan agenda-agenda politik yang kotor.

    Sejarah terbentuknya pencinta alam tidak hanya menciptakan budaya solidaritas yang kuat, tapi juga memberi corak tersendiri pada setiap kegiatannya. Melalui metode pendidikan dasar, para peserta ditempa secara mental dan fisik. Alam bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan guru sejati dalam pembentukan diri. Ia mengajarkan ketenangan lewat keheningan, ketabahan melalui tantangan, serta nilai-nilai hidup melalui keteraturan yang alami dan tidak dibuat-buat.

    Berhadapan langsung dengan alam berarti belajar menerima kenyataan, mengelola ketakutan, dan membangun relasi yang seimbang antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam dunia modern yang penuh distraksi dan simulasi, kembali ke alam adalah jalan kembali kepada pendidikan yang paling hakiki dan utuh—menyatu dengan yang nyata, untuk menjadi manusia yang kuat dan sadar.

    Seperti dalam tulisan Henry David Thoreau di Walden (1854), “Aku pergi ke hutan karena aku ingin hidup dengan sengaja, menghadapi hanya fakta-fakta esensial dari kehidupan, dan melihat apakah aku tidak dapat mempelajari apa yang diajarkannya—dan agar, ketika aku datang untuk mati, aku tidak menemukan bahwa aku belum pernah hidup.” Kutipan ini menyatakan bahwa Thoreau  tidak pergi ke hutan untuk melarikan diri dari kehidupan, tapi untuk menghadapinya secara sadar dan mendalam. Ia ingin mengalami esensi hidup yang sejati, bukan hidup yang dangkal dan otomatis, atau dikendalikan oleh kebiasaan masyarakat. Tujuan akhirnya adalah agar ketika kematian datang, ia tidak menyesal karena belum benar-benar hidup.

    Oleh karenanya, relevansi alam sebagai instrumen penanaman karakter tetap kuat hingga hari ini. Ia menjadi refleksi arus balik dari kehidupan modernitas—kapitalisme hingga kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan—yang perlahan mengikis kontribusi nyata dan peran aktif individu dalam realitas sosial.

    Hari ini, berbagai respons muncul terhadap kebijakan pemerintah yang semakin ugal-ugalan dan angkuh dalam narasi "pembangunan masa depan". Proyek seperti food estate dan Ibu Kota Negara (IKN) justru menunjukkan wajah lain: perusakan alam yang terang-terangan. Hutan dibabat, lahan gambut dikeringkan, satwa kehilangan habitat, dan masyarakat adat kehilangan ruang hidup. Atas nama ketahanan pangan dan pusat pemerintahan baru, alam dijadikan korban ambisi yang minim pertimbangan ekologis.

    Pandangan seperti ini bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya. Ia mengabaikan kenyataan mendasar bahwa alam bukan benda mati yang bisa dibentuk seenaknya, melainkan sistem hidup yang memiliki nilai pada dirinya sendiri—terlepas dari manfaat bagi manusia. Organisasi pencinta alam, atau siapa pun yang bersentuhan secara etik dengan alam, seharusnya percaya bahwa hutan, sungai, tanah, dan makhluk-makhluk di dalamnya memiliki hak hidup yang setara dengan manusia. Pandangan ini berpijak pada prinsip *deep ecology*: bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan hanya satu bagian dari jejaring kehidupan yang saling bergantung. Ketika satu simpul jejaring rusak, seluruh sistem terganggu—termasuk manusia itu sendiri.

    Proyek seperti food estate yang meratakan hutan demi lahan produksi massal, atau IKN yang menancapkan beton di jantung Kalimantan, bukan hanya soal pembangunan, tetapi soal keberlanjutan etika kita terhadap bumi. Jika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan makhluk hidup dan sistem ekologis yang rapuh, maka kita tidak sedang membangun peradaban—kita sedang menggali kubur kita sendiri. Dan mungkin, banyak dari eksploitasi ini sudah terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Karenanya, kita perlu mulai memandang alam bukan sebagai sumber daya semata, tapi sebagai saudara eksistensial. Seperti dalam prinsip *deep ecology*, bumi dan seluruh kehidupannya memiliki nilai intrinsik—tak perlu dibenarkan melalui “manfaat” bagi manusia.

    Lebih jauh lagi, dengan meminjam sikap Nietzsche: *amor fati*—mencintai takdir, mencintai hidup sebagaimana adanya. Dalam konteks ini, mencintai alam berarti menerima dan merayakan keberadaannya yang liar, tak terkendali sepenuhnya, dan penuh kontradiksi. Bukan mengubahnya agar sesuai kehendak kita, melainkan menyelaraskan diri dengannya. Mencintai alam juga berarti mencintai batas-batas yang ia berikan: keterbatasan lahan, musim, air, dan daya dukung.

    Amor fati bukanlah bentuk kepasrahan, tapi keberanian untuk hidup selaras dengan realitas, bukan melawannya. Kita tidak perlu membangun narasi tentang “menyelamatkan” alam dengan membangunnya ulang. Kita hanya perlu berhenti menghancurkannya dan mulai mencintainya sebagaimana adanya. Dalam cinta yang sejati—termasuk kepada bumi—tidak ada dominasi, hanya penerimaan dan perawatan. Sebuah sikap yang hendak diwujudkan dalam Pendidikan Dasar ke-37 Sintalaras UNM: keberanian menyatakan cinta secara jujur, dengan penerimaan apa adanya dalam  Amor Fati.

 

 

 

 

Makassar, 30 April 2025 

Alviandi (Binocular XXXV)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL UKM SINTALARAS UNM

Hidup Selaras, Manusia dan Alam source : Harian Fajar, 20 November 2011 Nama Sintalaras punya filosofi sendiri. Nama itu singkatan dari Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Selaras dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Para perintis terinspirasi dari

Sejarah Pecinta Alam di Indonesia

Kalau kita putar mesin waktu kita, sebenarnya "orang orang PA" itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Tahun 1912,di Nusantara sudah ada yang namanya De Nederlandsh Indische Vereneging Tot Natuur Rescherming. kita memang tidak atahu apa artinya, tapi yang jelas ada kata Natuur-nya tuh (hehehe!!!!). Hingga pada tahun 1937 terbentuklah Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Inilah kegiatan kepencintaalaman mulai aktif. Istilah pecinta alam sendiri di gagaskan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Sdr. Soe sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah...

GENERASI BARU SINTALARAS : MENENTUKAN JALAN SUNYI DARI GATE CORNER

“ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”- Pramoedya A. Toer      Sebut saja, Gate Corner . Sebuah tempat sederhana, lahirnya aneka cerita yang bertumbuh menjadi romantisme perjalanan dan dinamika organisasi--terekam dari setiap kemesraannya. Terletak di lantai dasar Pusat Kegiatan Mahasiswa UNM, tepat di sisi sudut gazebo yang remang-remang. Tempat yang mengubur ekslusifitas dengan dialog hingga percakapan biasa-biasa saja. Tidak ada hal spesifik tentang keistimewaan mengenai tempat ini, begitu sederhana, kecuali dinding yang di cat berwarna hitam dengan aksen hijau gelap, mirip warna lumut yang samar-samar.      Namun, di balik romantisme itu, sebenarnya adalah bagian dari saksi bisu rangkaian panjang perjalanan hidup dan pemaknaaan sebuah identitas setiap generasi dari Sintalaras. Menyaksikan setiap tonggak di wariskan---gagasan besar bersama cita-cita yang dapat diraih ataupun...